
Foto bersama anggota PPI Hiroshima dan utusan UNAIR
Sore itu, koridor IDEC terlihat sepi. Namun hal ini tak menghalangi langkah tiga para cendikiawan UNAIR untuk bertatap muka dengan para mahasiswa Indonesia di bumi Saijo ini. Ditemani Mbak Sofya dan Mbak Vivi sebagai guide, meski lelah melanda akibat banyaknya aktivitas hari itu, mereka tetap bersemangat memasuki Ruang 201 dan menjumpai…. 2 orang Indonesia! Lho, kok baru 2 orang??? Padahal acara seharusnya dimulai pukul 18.00 dan jam sudah menunjukkan pukul 18.20. O la la… malunya… maafkan kami, Bapak, Ibu… budaya jam karet masih mengalir deras di dalam nadi kami…
Namun, hal ini tak menghalangi kehangatan yang tercipta seiring dengan berlalunya waktu. Satu persatu mahasiswa Indonesia yang umumnya bermarkas di IDEC, menampakkan batang hidung mereka dan mulai penuhlah R.201 dengan gelak tawa dan canda ria.

Prof. Sri Subekti dan Ketua PPI Hiroshima
Acara bincang-bincang santai dengan ketiga dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR ini diawali dengan perkenalan dari Prof. Dr. Sri Subekti Bendryman, DEA, DVM. Ibu satu ini pernah menimba ilmu di Paris dan aktif dalam organisasi PPI di sana. Beliau membagikan pengalaman dan suka dukanya menempuh pendidikan di negeri orang yang berbeda latar belakang budayanya dan jauh dari sanak saudara. Perkenalan berikutnya adalah dengan Dr. M. Amin Alamsjah. Beliau juga pernah menimba ilmu di Nagasaki. Salah satu pengalaman pribadi yang beliau bagikan adalah saat merasa hendak menyerah karena beban studi yang dipikul terasa berat, beliau teringat akan anak dan istri yang juga berjuang menjalani hidup di negeri orang; bersusah payah mengayuh sepeda, belajar mengerti bahasa yang susahnya amit-amit… Hal-hal demikianlah yang memicu semangat beliau untuk terus memberikan yang terbaik dalam studi. Selanjutnya adalah Dr. Endang Mashitah yang dalam sesi perkenalannya menyatakan bersyukur meskipun tidak mengalami studi di luar negeri, namun turut merasakan dampaknya dari para dosen atau kolega yang pernah studi di luar negeri. Oleh karena itu, beliau mendorong para mahasiswa Indonesia yang hadir saat itu untuk tetap semangat dalam studi dan pantang menyerah. Sebab sekembalinya ke tanah air nanti, keberadaan kita akan memberikan pengaruh yang berarti bagi orang-orang sekitar, entah kita sadari atau tidak.

Dr. Amin Alamsjah dan Ketua PPI Hiroshima
Acara kemudian dilanjutkan setelah break sejenak guna memberikan kesempatan bagi rekan-rekan muslim untuk sholat. Lalu acara perkenalan dilanjutkan lagi, namun kini dari para mahasiswa Hirodai. Aneka kreativitas penuh humor dalam memperkenalkan diri masing-masing membuat waktu berjalan cepat tanpa disadari. Hingga akhirnya Mbak Sofya selaku moderator mengingatkan untuk mempersingkat waktu perkenalan agar sempat melakukan tanya jawab dengan para tamu dari Indonesia tersebut. Karena keterbatasan waktu, hanya ada 3 orang yang sempat dilayani pertanyaannya. Diawali oleh Mbak Sofya yang sedikit kuatir bila kembali ke Indonesia, tidak dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat di Jepang sebab terkendala idealisme yang berbenturan dengan sistem yang masih diberlakukan di Indonesia. Namun para dosen Unair ini sepakat memberikan penguatan agar jangan merasa kecil hati sebab ilmu yang diperoleh akan memberikan dampak yang signifikan di manapun kita mengabdi, sekecil apapun itu. Redam culture shock dengan menerima apa adanya kondisi negara kita dan berjuang sekeras mungkin untuk membangunnya menjadi lebih baik. Jalin kerja sama dengan para alumni PPI sebab biasanya kekerabatan alumni bisa jadi lebih erat dari saudara, dan kekerabatan ini dapat membantu kita untuk beradaptasi dengan kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia. Setelah itu, Mas Zamroni dan Mas Danar bersama-sama menanyakan manfaat dan langkah-langkah yang ditempuh untuk menjalin kerja sama dengan universitas lain di luar negeri. Para beliau pun menjelaskan bahwasanya tujuan utama menjalin kerja sama dengan pihak luar adalah pencitraan diri terlebih dahulu. Dengan menciptakan trademark yang baik bagi universitas kita, maka akan memudahkan kerja sama yang akan dijalin di kemudian hari, bisa dalam bentuk student exchange, joint course, guest lecture, penyediaan dana untuk riset, penyelenggaraan seminar internasional, dan pembentukan jaringan/networking antar universitas. Sisi positif lainnya adalah timbulnya semangat untuk berkompetisi pada dosen-dosen kita sehingga pada akhirnya dapat semakin memacu perbaikan kualitas pendidikan di dalam negeri.

Dr. Endang dan Ketua PPI Hiroshima
Waktu pun menunjukkan pukul 8 malam yang artinya usai sudah persuaan kita dengan para tamu dari Surabaya. Acara foto dan penyerahan piagam terima kasih pun menutup Obrolan Santai BIDIK kali ini. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya…






